Rabu, 21 November 2012

Tafsir Ayat Kepemimpinan Dalam Al-Quran Tinjauan Tafsir Maudhu’i


Tafsir Ayat Kepemimpinan Dalam  Al-Quran Tinjauan Tafsir Maudhu’i
Oleh: Amalia Safitri
Ilmu Pendidikan Islam


 Abstak
Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang tafsir ayat kepemimpinan dalam Al-Quran tinjauan tafsir maudhui. Metode yang digunakan dalam penulisan ini ialah hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation). Dalam hal ini hermeneutika sebagai sistem penafsiran dapat diterapkan, baik secara kolektif maupun secara personal, untuk memahami makna yang terkandung dalam suatu ayat Al-Quran. Hasil penulisan ini ialah terdapatnya beberapa ayat-ayat yang membahas tentang kepemimpinan yang terdapat dalam Al-Quran yang di tafsirkan secara maudhui atau secara tematik. Kebanyakan pendapat dari para mufassir menafsirkannya secara kontekstual dan dilihat dari asbabun nuzulnya ayat tersebut dan kebanyakan ayat Madaniah yang bisa dikatakan bahwa masalah kepemimpinan atau istilah kepemimpinan turun pada saat Nabi Muhammad saw sudah hijrah ke Madinah.
Latar Belakang
Sejak zaman Nabi Adam hingga zaman sekarang ini seorang pemimpin sangatlah diperlukan. Karena seorang pemimpin adalah suatu penggerak yang dapat membawa suatu perubahan menjadi yang lebih baik. Sosok seorang pemimpin yang bijak sangatlah diperlukan di setiap kehidupan.
Di setiap kita berada dan dilingkungan manapun pasti adanya suatu pemimpin yang berkuasa di tempat lingkungan tersebut. Yang dimulai dari lingkungan keluarga yang dikepalai oleh seorang Ayah, di lingkungan masyarakat yang dipimpin oleh ketua rukun tangga (RT)  atau rukun warga (RW) dan lain-lain, di lingkungan sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah hingga di organisasi ataupun klub sudah pasti memiliki seorang pemimpin yang memegang kekuasaan secara penuh. Biasanya seorang pemimpin yang sedang memegang kekuasaan tersebut memiliki kepercayaan yang penuh dan sangat disegani oleh anggota-anggotanya.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki sifat yang lebih dari anggota-anggotanya dan biasanya memiliki ciri yang khas dalam kepemimpinannya tersebut. Dalam hal ini sangat berkaitan dengan bagaimana cara seorang pemimpin tersebut memimpin suatu oraganisasi baik berupa organisasi formal maupun non formal. Seorang pemimpin harus memiliki  power atau kekuatan di dalam suatu organisasi sehingga ia dapat memegang kekuasaan.
Pemimpin merupakan faktor penentu dalam kesuksesan dan kegagalan suatu organisasi. Baik di organisasi formal maupun non formal, kualitas seorang pemimpin sangat menentukan keberhasilan organisasi yang ia pimpin. Sebab pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mengelola organisasi, dapat mempengaruhi secara konstruktif orang lain dan menunjukkan jalan serta prilaku benar yang harus dikerjakan bersama-sama melalui kerja sama.[1]
Pemimpin memiliki banyak istilah ataupun memiliki banyak penyebutan tetapi memiliki makna dan arti yang sama yaitu seorang pemimpin. Dalam hal ini istilah seorang pemipin biasa disebut sebagai kepala rumah tangga yang memimpin di tingkat lingkungan keluarga, kepala sekolah yang memimpin di lingkungan tingkat sekolah, ketua yang memipin di tingkat organisasi lingkungan masyarakat, manager yang memimpin di tingkat usaha dan banyak istilah lain.
Dalam pernyataan di atas apabila istilah kepemimpinan dikaitkan dengan studi Al-Quran. Istilah kepemimpinan sangat banyak di antaranya ada khalifah, ulil amri, hukum, amr, qodho dan masih banyak lagi. Di dalam AL-Quran menjelaskan istilah kepemimpinan yang biasanya dapat diartikan secara kontekstual. Banyak para mufassir yang menerangkan tentang ayat-ayat kepemimpinan di dalam Al-Quran melalui tafsir-tafsir.
Dengan beragamnya istilah kepemimpinan tersebut dalam penulisan ini akan membahas tentang ayat-ayat tentang kepemimpinan tinjauan tafsir maudhui. Dalam penulisan ini ada beberapa ayat Al-Quran yang membahas tentang kepemimpinan yang disertai dengan tafsir dan dari gaya bahasanya.
Pembahasan
Tafsir Maudhui
Kata maudhu’i berasal dari bahasa arab yaitu maudhu’ yang merupakan isim maf’ul dari fi’il madhi wadha’a yang berarti meletakkan, menjadikan, mendustakan dan membuat-buat. Arti maudhu’i yang dimaksud di sini ialah yang dibicarakan atau judul atau topik atu sektor, sehingga tafsir maudhu’i berarti penjelasan ayat-ayat Alquran yang mengenai satu judul/topik/sektor pembicaraan tertentu. Dan bukan maudhu’i yang berarti yang didustakan atau dibuat-buat, seperti arti kata hadis maudhu’ yang berarti hadis yang didustakan/dipalsukan/dibuat-buat. Adapun pengertian tafsir maudhu’i (tematik) ialah mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an yang mempunyai tujuan yang satu yang bersama-sama membahas judul/topik/sektor tertentu dan menertibkannya sedapat mungkin sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain, kemudian mengistimbatkan hukum-hukum.[2]
Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan menurut bahasa ialah  leadership yang berasal dari kata leader.[3] Sedangkan arti kepemimpinan menurut istilah ialah proses untuk mempengaruhi orang lain, baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu situasi dan kondisi tertentu.[4]
Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari anggota kelompok. Dalam memahami tentang kepemimpinan perlu digunakannya pendekatan-pendekatan seperti pendekatan sifat, pendekatan tingkah laku dan pendekatan kontingensi. Pengertian kepemimpinan juga dapat diartikan dalam beberapa hal seperti hal melibatkan orang lain, melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak merata antara pemimpin dan anggota kelompok, kepemimpinan juga dapat menggerakkan kemampuan dengan menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk mempengaruhi tingkah laku bawahan dan kepemimpinan juga akan menyangkut pada nilai.
Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Kepemimpinan
a.    Khalifah,
Dalm Al-Quran yang temasuk kedalam cakupan kepemimpinan adapun surat yang membahas tentang khalifah ialah di dalam QS. Al-Baqarah ayat  30, yang berbunyi :
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
            Menurut tafsir Sayyid Quthb dalam ayat ini memaparkan parade kehidupan (maukabul hayat), bahkan parade alam wujud secara keseluruhan. Kemudian berbicara tentang bumi dalam kerangka pemaparan nikmat-nikmat Allah kepada manusia seraya menegaskan bahwa Allah menciptakan segala yang ada di dalamnya untuk mereka. Di dalam suasana ini dipaparkan kisah pengangkatan Adam sebagai khalifah di muka bumi dan penyerahan segala kuncinya  kepadanya, dengan suatu janji dan syarat dari Allah di samping pembekalan berbagai pengetahuan yang bisa dipergunakan untuk mengelolah khilafah tersebut. Sebagaimana juga menyampaikan pendahuluan pembicaraan tentang pengangkatan Bani Israil sebagai khalifah di bumi berdasarkan janji dari Allah kemudian pelucutan mereka dari khalifah tersebut dan penyerahan kendalinya kepada umat Islam yang menepati janji Allah.[5]
Dari ayat ini menjelaskan bahwa manusia secara nonformal adalah kedudukannya ialah sebagai khalifah. Perkataan khalifah dalam ayat ini ialah tidak hanya ditunjukkan kepada para khalifah sesudah Nabi Adam a.s. yang disebut sebagai manusia dengan tugas untuk memakmurkan bumi yang meliputi tugas menyeru orang lain berbuat amar ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar.[6]
Kalsifikasi ayat diatas ialah surat ini termasuk dalam surat Madaniyah karena surat ini diturunkan di Kota Madinah. Adapun dari segi tema dan gaya bahasanya menjelaskan masalah perundang-undangan terlihat pada Allah membicarakan tentang kekuasaan atau pemerintahan. Adanya suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan syariatnya telihat bahwa Allah langsung berbicara tentang kahalifah atau pemimpin.
Adapun di dalam surat lain ialah di dalam QS. As-Shad ayat 26, yang berbunyi :
ߊ¼ãr#y»tƒ $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ ZpxÿÎ=yz Îû ÇÚöF{$# Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/ Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@Î6y «!$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒtƒ `tã È@Î6y «!$# öNßgs9 Ò>#xtã 7ƒÏx© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqtƒ É>$|¡Ïtø:$# ÇËÏÈ  
26.  Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.
Dalam ayat ini menjelaskan Allah SWT menjelaskan pengangkatan Nabi Daud sebagai penguasa  dan pengangkatannya sebagai penegak hukum pemrintahan dan penguasa di kalangan rakyatnya. Allah SWT menjelaskan dan menyatakan bahwa dia mengangat Daud sebagai penguasa yang memerintah kaumnya. Pengertian penguasa diungkapkan dengan  khalifah  yang artinya pengganti adalah sebagai isyarat agar Daud dalam menjalankan kekuasaannya selalu dihiasi dengan sopan santun yang baik yang diridohai Allah  dan dalam melaksanakan peraturan hendaknya berpedoman kepada hidayah Allah. Dengan demikian sifat-sifat khalifah Allah tergambar pada diri pribadinya. Maka rakyatnyapun tentu akan mentaati segala peraturannya dan tingkah lakunya yang patut diteladani.[7]
Dalam ayat ini juga terdapat isyarat yang menunjukkan pengangkatan Daud sebagai Rosul dan tugas apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang Rosul serta mengandung pelajaran bagi para pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya.
b.   Ulil Amri
Dalam Al-Quran juga terdapat cakupan kepemimpinan diantaranya ialah dari kata ulil amri yang terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 59, yang berbunyi :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߧ9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqߧ9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ 
59.  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
          Asbabun nuzul ayat ini dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais ketika diutus oleh Nabi SAW memimpin suatu perang.[8] Menurut pendapat Al-Hafidh Ibnu Hajar ialah bahwa maksud dari kisah Abdullah bi Hudzafah, munasabah disangkut-pautkan dengan alasan turunnya ayat ini, karena dalam kisah itu dituliskan adanya perbatasan antara taat pada perintah (pimpinan) dan menolak perintah untuk terjun ke dalam api. Disaat itu mereka perlu akan petunjuk apa yang harus mereka lakukan. Ayat ini turun memberikan petunjuk kepada mereka apabila berbantahan hendaknya kembali kepada Allah dan Rosul-Nya.[9]
          Kalsifikasi dalam surat ini ialah termasuk kedalam surat Madaniyah karena diturunkan di Kota Madinah dan suku kata ayatnya panjang-panjang, diawali dengan kalimat “hai orang-orang beriman” dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan syariatnya terlihat sangat jelas bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk mentaati Allah, Rosul dan Ulil Amri.
Adapaun di dalam surat lain ialah di dalam  QS. An-Nisa ayat  83, yang berbunyi :
#sŒÎ)ur öNèduä!%y` ֍øBr& z`ÏiB Ç`øBF{$# Írr& Å$öqyø9$# (#qãã#sŒr& ¾ÏmÎ/ ( öqs9ur çnrŠu n<Î) ÉAqߧ9$# #n<Î)ur Í<'ré& ̍øBF{$# öNåk÷]ÏB çmyJÎ=yès9 tûïÏ%©!$# ¼çmtRqäÜÎ7/ZoKó¡o öNåk÷]ÏB 3 Ÿwöqs9ur ã@ôÒsù «!$# öNà6øŠn=tã ¼çmçGuH÷quur ÞOçF÷èt6¨?]w z`»sÜøŠ¤±9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÌÈ  
83.  Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).
            Asbabun nuzul ayat ini ialah bahwa dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Nabi ‘uzalah (menjauhi) isteri-isterinya, Umar bin Khattab masuk ke dalam masjid di saat orang-orang sedang kebingungan sambil bercerita bahwa Rosulullah telah menceraikan isteri-isterinya. Umar berdiri di pintu masjid dan berteriak: “Rosulullah tidak menceraikan isterinya dan aku telah menelitinya”, maka turunlah ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut untuk tidak menyiarkan berita sebelum diselidiki.[10]
   Dalam ayat ini menjelaskan bahwa setiap muslim wajib memimpin dalam suatu negara. Dan kata ulil amri disini  menurut Mufassirin yang lain maksudnya ialah: kalau suatu berita tentang keamanan dan ketakutan itu disampaikan kepada Rasul dan ulil Amri, tentulah Rasul dan ulil amri yang ahli dapat menetapkan kesimpulan (istimbat) dari berita itu.
Surat ini termasuk kedalam surat Madaniyah karena diturunkan di Kota Madinah dan dari segi tema dan gaya bahasa suku kata dan ayatnya panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan syariatnya.
c.    Hukum
Dalam Al-Quran juga terdapat cakupan kepemimpinan diantaranya ialah dari kata hakama atau hukum yang terdapat dalam QS. Al-Qashas ayat 70, yang berbunyi :
uqèdur ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( çms9 ßôJptø:$# Îû 4n<rW{$# ÍotÅzFy$#ur ( ã&s!ur ãNõ3çtø:$# Ïmøs9Î)ur tbqãèy_öè? ÇÐÉÈ  
70.  Dan dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
Menurut tafsir Universitas Islam Indonesia, pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dialah yang Maha Esa, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Dialah yang mengetahui segala sesuatu dan Dia pula yang berkuasa atasnya. Dialah yang dipuji segala perbuatan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat nanti, karena Dialah yang memberikan segala nikmat yang kita peroleh baik sekarang maupun dihari mendatang. Segala peraturan dan ketentuan yang telah digariskan-Nya harus berlaku dan terlaksana.Tidak mungkin diganggu gugat karena Dia berada diatas segala makhluk-Nya, Hakim Yang Paling Adil yang menentukan dan menetapkan yang benar itu benar yang salah itu yang salah.[11]
Kata “Al-hukmu”disini berarti “penentuan” dalam kaitannya dengan kepemimpinan ialah bahwa setiap pemimpin ialah sebagai penentu dari setiap keputusan dan setiap pemimpin dalam mengambil keputusan yang sudah di tentukan harus dengan sikap adil dan harus menetapkan dengan sebenar-benarnya, apabila sesuatu benar maka katakan benar dan apabila sesuatu salah maka katakan salah.
Dalam surat ini terasuk kedalam surat Makkiyah karena ayat ini diturunkan di kota Mekkah dan berasal dari segi ciri tema dan gaya bahasanya  menjelaskan tentang dakwah kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah.
d.   Amr
     Dalam Al-Quran juga terdapat cakupan kepemimpinan diantaranya ialah dari kata “amr” yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 27, yang berbunyi :
tûïÏ%©!$# tbqàÒà)Ztƒ yôgtã «!$# .`ÏB Ï÷èt/ ¾ÏmÉ)»sWŠÏB tbqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcrßÅ¡øÿãƒur Îû ÇÚöF{$# 4 šÍ´¯»s9'ré& ãNèd šcrçŽÅ£»yø9$# ÇËÐÈ  
27.  (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.
     Menurut tafsir fi zhilalil Qur’an, dalam konteks tersebut diungkapkan disini secara global, karena masih dalam kerangka mengidentifikasi karakter dan menggambarkan contoh-contoh. Bukan dalam kerangka mencatat peristiwa atau rincian kejadian. Gambaran disini diperlukan secara umum. Jadi setiap perjanjian antara Allah dan tipe manusia ini telah dilanggar setiap hal yang diperintahkan Allah untuk menyambung sesama mereka telah diputuskan dan setiap kerusakan yang terjadi di muka bumi ini bersumber dari ulah mereka. Sesungguhnya hubungan tipe manusia ini dengan Allah telah terputus dan bahwa fitra mereka yang menyimpang itu tidak bisa lagi menepati perjanjian, tidak bisa lagi berpegang teguh dengan tali yang kuat dan tidak bisa lagi menjauhi kerusakan. Sesungguhnya mereka ibarat buah muda yang terlepas dari pohin kehidupan. Oleh sebab itu kesesatan mereka terjadi karena permisalan yang justru memberikan petunjuk kepada orang-orang mu’min. Kesesatan mereka itu terjadi dengan satu sebab yang justru membuat orang-orang yang bertakwa mendapat petunjuk.[12]
     Kata “amara” di sini berarti “diperintahkan” keterkaitan ayat ini dengan konteks kepemimpinan ialah bahwa setiap masyarakat harus mentaati semua ketentuan dan perintah dari seorang pemimpin. Dan setiap pemimpin harus selalu menepati janji-janji yang sudah diikrarkan dirinya atau seorang pemimpin tersebut.
     Dalam ayat ini termasuk ke dalam surat Madaniyah karena di turunkan di kota Madinah dan dari segi karakteristik umum suratnya berisi keawajiban atau sanksi hukum, dan setiap surat yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik. Dari segi tema dan gaya bahasanya menyikapi perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
e.    Qodho
     Dalam Al-Quran juga terdapat cakupan kepemimpinan diantaranya ialah dari kata “amr” yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 117, yang berbunyi :
ßìƒÏt/ ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( #sŒÎ)ur #Ó|Ós% #XöDr& $yJ¯RÎ*sù ãAqà)tƒ ¼ã&s! `ä. ãbqä3uŠsù ÇÊÊÐÈ 
117.  Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia Hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.
     Menurut tafsir Fi Zhilalil Quran, ialah suatu kehendak yang terjadi dengan cara yang tidak dapat diketahui oleh pengetahuan manusia, karena hal tersebut di luar kemampuan pengetahuan manusia. Karena itu adalah sia-sia mengerahkan kemampuan untuk mencapai rahasia ini dan menempuh jalan kesesatan tanpa petunjuk jalan. Setelah memaparkan ucapan Ahli Kitab yang mendakwakan Allah mempunyai anak lalu mengoreksi ucapan ini dan membantahnya, Al-Quran menyusuli pula dengan ucapan kaum musyrikin dalam masalah yang sama sehingga menggambarkan kesamaan antara konsepsi kaum musyrikin dan konsepsi Ahli Kitab.[13]
     Kata “qadha” disini berarti “berkehendak” dalam konteks kepemimpinan ialah bahwa setiap pemimpi memiliki kehendak untuk mengatur rakyatnya dan setiap kehendak tersebut wajib ditaati oleh setiap rakyatnya.
     Dalam ayat ini termasuk kedalam surat Madaniya karena di turunkan di kota Madinah dan dari segi tema dan gaya bahasa ialah termasuk seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah keterangan datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.
Kesimpulan
kesimpulan dari penulisan ini, kepemimpinan ialah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari anggota kelompok. Dalam memahami tentang kepemimpinan perlu digunakannya pendekatan-pendekatan seperti pendekatan sifat, pendekatan tingkah laku dan pendekatan kontingensi.
Ayat-ayat yang terkait dengan kepemimpinan diantaranya ialah kata khalifah, amr, ulil amri, qodho dan hukum. Hasil penulisan ini ialah terdapatnya beberapa ayat-ayat yang membahas tentang kepemimpinan yang terdapat dalam Al-Quran yang di tafsirkan secara maudhui atau secara tematik. Kebanyakan pendapat dari para mufassir menafsirkannya secara kontekstual dan dilihat dari asbabun nuzulnya ayat tersebut dan kebanyakan ayat Madaniah yang bisa dikatakan bahwa masalah kepemimpinan atau istilah kepemimpinan turun pada saat Nabi Muhammad saw sudah hijrah ke Madinah.
Saran
Saran penulis ialah bahwa ketika kita mencoba untuk mengartikan ayat-ayat Al-Quran. Diharapkan memaknai secara kontekstual tidak sekedar secaratekstual saja dan harus dilihat dari asbabun nuzulnya dari setiap ayat-ayat tersebut.





[1] Kartini Kartono,”Pemimpin dan Kepemimpinan”, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1994, hal. V.
[3] Prof. Dr. Veithzal Rivai, M.B.A, Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 9.
[4]Prof. Dr. Veithzal Rivai, M.B.A, Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 36.
[5] Sayyid Quthb, Tafsir Fi-Zhilalil Quran Di Bawah Naungan Al-Quran, Bandung:Robbani Press, 2003, hal.105
[6]Prof. Dr. Veithzal Rivai, M.B.A, Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 6.
[7]Universitas Islam Indonesia,”Al-Quran dan Tafsirnya”, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf,1990.
[8]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas denngan riwayat ringkas.
[9] K.H.Q. Saleh, H.A.A. Dahlan, Prof. DR. H.M.D. dahlan,”Asbabun nuzul Latar Belakang Sejarah Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran”, Bandung:CV. DIPONOROGO, 1995, hal. 139.
[10]Prof. Dr. Veithzal Rivai, M.B.A,“Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi”, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004,  hal.144-145.
[11]Universitas Islam Indonesia,”Al-Quran dan Tafsirnya”, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf,1990, hal 377.
[12] Sayyid Quthb, Tafsir Fi-Zhilalil Quran Di Bawah Naungan Al-Quran, Bandung:Robbani Press, 2003, hal. 94.

[13]Ibid, hal 231.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar